AYAHANDAKU PERGI.

kematian bapak adalah sebuah kiamat luar biasa dalam hidupku..

baru 100 hari Ia pergi tanpa pamit apalagi pelukan hangat untukku.Lalu aku pun dipaksa untuk ikhlas demi alasan ketaatan terhadap Tuhan.

Kini aku tau betapa berat menjadi manusia. Harus menerima dihajar oleh duka dan penuh luka. atas nama kehidupan yang tak abadi, sudah seharusnya aku tak lagi meratapi kisah sedih ini.

kesimpulan dari pelacakan beberapa minggu ini soal kemiskinan Jakarta. (II)

menurut hemat saya,
bagaiamana mungkin pemerintah secara keroyokan justru berfokus pada cara yang memusuhi rakyat miskin perkotaan. padahal nyatanya, ia merupakan anak kandung dari kesalahan kebijakan negeri ini sejak era kolonial. maksudnya adalah petani pribumi yang saat era kolonia diusir dari lahannya sendiri dan kemudian ketika era selanjutnya ia pun menjadi terlunta lantung dalam menentukan nasibnya hendak kemana di era modernisasi ketika pro investasi asing dan maaraknya industrialisasi di perkotaan. mereka (petani) berasal dari desa yang jauh dari perkotaan yang mana ketika semua itu berlanjut tidak ada lagi suasana nyaman saat semua belum diwujudkan. saat lahan mereka diambil alih oleh perusahaan yang lebih besar darinya dan mereka pun tetap harus merasakan lapar dan mendengar tangis anak kelaparan, apakah mereka berdiam ? tentu tidak. mereka mencari bak semut yang paham keberadaan gula dimana. mereka menuju kota yang menjadi smber penghidupan ekonomi uang yang sangat mereka butuhkan di era yang semakin gila ini. kemudia ia berjalan mengadu nasib dan mencoba pekerjaan yang tersedia di kota itu. tentu tidak ada lagi lahan yang bisa ditani atau rumput yang bisa diarit. mereka melamar di perkantoran pasti tak bisa maka satu satunya jalan adalah ia menjajakan jajanan di jalanan. apakah itu salah mereka?

kesimpulan dari pelacakan beberapa minggu ini soal kemiskinan Jakarta.

saat ini banyak wacana soal pengentasan kemiskinan di Jakarta dengan berbagai cara. salah satunya adalah membatasi jumlah imigran. lebih spesifik lagi, akan ada tindak lanjut yang lebih massif lagi terhadap imigran yang bekerja di sektor informal (PKL, Gelandangan, dll). para imigran tsb berasal dari desa-desa di Indonesia yang mengadu nasib agar dapat menjadi bagian orang-orang beruntung dalam ekonomi Kota metropolitan itu. namun yang menjadi poin penting untuk dicari tau apakah sebetulnya pangkal penyebab dari masalah kemiskinan kota ini?
seharusnya kita ingat ada sejarah Jakarta sebelum ia menjadi bukota. saya termasuk orang yang mengamini bahwa masalah kemiskinan kota ini adalah warisan dari jaman kolonial. mengapa demikian? dapat kita liat pada tahun 1800, ketika VOC bangkrut dan kemudian di gantikan pemerintah Belanda yang menggalakkan sistem tanam paksa dan lebih lanjutnya akan berada pada situasi ekonomi kapitalistik. yang mana perkebunan menjadi satu satunya fokus dari pemerintah kolonial untuk mendapatkan keuntungan. hal tsb didorong dengan kebijakan penghapusan monopoli perdagangan oleh negara menjadi dibukanya investasi bagi swasta asing di luar Belanda.
seperti apa yang dijelaskan Richard Robison dalam bukunya “The rise of capital Indonesia” bahwa hal tersebut melahirkan kesengsaraan yang bertubi-tubi bagi petani pribumi sebelumnya, tanah yang telah menjadi hak milik dan diolah secara pribadi kemudian harus dirampas utk menjadi bagian dari lahan yang disewakan selama 21 tahun kepada para perkebunan besar di bawah perusahaan swasta asing.
petani pribumi menjadi kuli di tanahnya sendiri dan kemudian ada masa yang lebih jauh setelahnya yakni ketika modernisasi yang ditandai industrialisasi hadir ke Kota ini. hemat saya, rakyat miskin yang kini sedang menjadi musuh utama para pemangku kebijakan di Kota Jakarta merupakan anak kandung dari kebijakan yang salah sejak awal negara ini menerima dengan bangga apa itu modernisasi.

POTONGAN

Begitu kamu tau bahwa hidupmu seperti hancur karena ternyata masalah datang tanpa henti dan seolah tidak pernah selesai atau ada ujungnya. Masalah yang sama datang dalam hidupmu. Pemain utamanya pun sama serta korban korbannya tak berbeda.  Engkau tau bahwa itu sulit kau terima. Namun kau coba untuk kuat dan merasa bahwa itu adalah hal yang biasa. Semua itu kau lakukan hanya untuk seseorang yang lebih merasa sakit dari dirimu oleh masalah ini. Ia lebih butuh perhatian dan ketegaranmu daripada tangingan Bombaymu.

Tuhan selalu punya cara untuk menegur hambanya. aku tidak ingin kepedean dengan menyebut masalah ini adalah cara Tuhan menguji atau memberi cobaanku. Karena aku belum merasa pantas mendapatkan itu, bagiku yang mendapatkan ujian adalah orang-orang yang sudah baik akhlaknya dan ibadahnya. Sedang aku? Tidak!

Kamu tau, bahwa sebuah keluarga adalah bukan bicara ‘siapa’ tapi ‘bagaimana’. Bukan lagi seperti di buku-buku bahasa Indonesia atau di cerpen-cerpen untuk anak yang intinya ada ayah, ibu, kaka, adik. Tidak mutlak seperti itu. Ada yang lebih dalam. Keluarga adalah sebuah ruang temu. Ruang temu antara hati,pikiran, dan harapan. Aku mencintai keluargaku dengan semua definisi itu..

Cukup saja sampai disitu. Biarlah tulisan ini seperti puzzle yang tak tersusun rapih hingga kamu-kamu yang membaca merasa bukan sebuah kisah utuh. Karna itulah niatku.

ada APA !

Jika merenung sebentar saja soal hidup, apa yang terpikir?

Jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, maka saya punya jawaban seperti ini:

Beberapa bulan ini, saya cukup familiar dengan pertanyaan tsb, sebenarnya apa sih hidup? Terlebih lagi setiap ada masalah yang datang dalam hidup saya, entah itu dari lingkungan atau dalam pribadi sendiri. Maka lagi2 saya merenung apa sih hidup?

“Hidup” yang saya maksud identik dengan dunia. Dunia yang meliputi segala yang ada baik materil maupun immateril.

Semakin kesini, saya semakin yakin dan setuju dengan banyak pernyataan yang mengatakan bahwa dunia ini ibarat bangkai.

Pernah berpikir tentang apa yang kita lakukan sebenarnya di dunia ini? Sudah berapa lama usia kita disini? Apa saja yang kita rasakan dan siapa saja orang yang sudah kita jumpai? Dan masih banyak lagi pertanyaan2 lain.

Saya merasa bahwa hidup ini begitu MEMUAKKAN! Bukan karena keadaan saya tidak bahagia. Muak dalam berbagai hal. Saat ini saya masuk dalam fase bosan dan muak pada dunia ini. Baru sadar bahwa dunia hanya tempat yang sementara dan kita tidak benar2 hidup.

Saya pun sampai bingung menjelaskan apa yang sebetulnya saya rasakan dan fikirikan soal hidup dunia ini. Begitu njelimet/ribet dijelaskan. Tapi saya mencoba untuk menuliskannya, entah akan tersampaikan  atau tidak apa yang saya maksud. Beginilah salah satunya cirri ketidakhidupan manusia di dunia. Untuk menjelaskan  yang ada dipikirannya ssaja tidak mampu!

Sebetulnya apa tujuan kita hidup di dunia ini? Sampai setua ini pun saya tidak juga tau apa yang menjadi tujuan.

Apa yang saya lakukan dan mau kemana saya ini. Agama sudah ada, Tuhan pun ada, tapi diri ini tetap saja seperti terapung. Salahkan diri in yang mungkin sibuk memuja dunia tadinya.

Pernah berfikir dan sadar bahwa kita ini awal lair sudah menangis, semakin bertambahnya waktu lalu kita tertawa, namun kita akan menangis lagi, dan sampai kita tua pun akan terus begitu. Menangis, tertawa.

Didunia ini, saya merasakan bahagia, senang, riang, gembira, antusias dll. Namun setelah itu pun ada waktu lagi dimana saya harus merasakan kesedihan, kesengsaraan, kepusingan, kegundahan, kepenatan, kebosanan dll.

 Ya begitulah. Nikmati saja!

Bahwa pada dasarnya apapun yang berbau dunia adalah sementara.